Tampilkan postingan dengan label tugas pemasaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas pemasaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Januari 2015

Prakerin versus Pacaran



Senin 5 Januari 2015, aku mengawali semester genap dengan tugas prakerin di sebuah toko buku. Bukan toko buku  bacaan sejenis Gramedia, melainkan toko buku dan peralatan tulis. Sebuah toko yang berada di  kawasan pecinan. Aku sengaja memilih tempat prakerin yang dekat dengan rumah agar menghemat ongkos. Setidaknya untuk mendapatkan pengalaman kerja tidak harus membayar mahal, kan?
Tak banyak teman sekelas yang memilih prakerin di dalam kota. Mayoritas temanku memilih prakerin di Jogja. Mereka kadung kepincut suasana Jogja ketika kami survey lokasi tempo hari. Menurut mereka, prakerin di Jogja lebih menguntungkan. Selain mendapatkan pengalaman baru, mereka juga bisa sambil plesir di Jogja. Alih-alih belajar hidup mandiri jauh dari orangtua selama 2 bulan dan mendapatkan upah magang.
Kalau ingat Jogja, aku jadi ingat dia. Seseorang yang sempat istimewa buatku. Lebih tepatnya meminta diistimewakan olehku. Dan stasiun Tugu, Yogyakarta menjadi saksi bisu kandasnya hubungan kami.
Sebenarnya, dia tidak ikut dalam rombonganku ke Jogja. Aku sempat mengajaknya, tapi ia menolak dan malah mempermasalahkan keikutsertaanku ke Jogja. Memang acara survey lokasi prakerin ke Jogja bukan acara resmi dari pihak sekolah. Tapi demi solidaritas aku wajib ikut berpartisipasi bersama teman sekelasku. Dan aku tak mungkin membatalkannya hanya demi memenuhi permintaan seseorang. Lagipula orangtuaku juga mengizinkan aku pergi ke Jogja.
Acara ke Jogja itu dicetuskan oleh Mario, sang Ketua kelas dan kami telah merencanakannya sejak awal semester ganjil kelas XI. Selama enam bulan kami mengumpulkan uang kas kelas agar dapat berangkat ke Jogja bersama-sama. Beruntung, di akhir semester kami berhasil menyabet juara ketiga perlombaan pentas seni antar kelas.  Dan uang dari hadiah itu dapat kami jadikan dana tambahan untuk membiayai perjalanan kami ke Jogja.
Malam sebelum keberangkatanku ke Jogja, aku dan dia terlibat percekcokan di telepon. Dia masih berusaha membujukku untuk membatalkan kepergianku ke Jogja. Aku memang sempat galau dan tidak bisa tidur hingga lewat tengah malam. Akibatnya, aku nyaris kesiangan ke stasiun keesokan harinya.
Keberangkatanku ke Jogja diantar oleh sms kekesalannya. Hanya sms singkat berbunyi “ya” sebagai balasan sms pamitanku yang cukup panjang. Aku mencoba meneleponnya. Tidak diangkat dan malah dimatikan. Sepertinya dia ngambek. Suasana pagi yang seharusnya segar berubah pengap karena ulahnya.
Sesampai di Jogja aku berusaha mengabaikan pikiranku tentang dia. Tapi tetap saja aku masih memikirkannya saat menjejakan kakiku di sepanjang Malioboro. Aku sempat membayangkan betapa menyenangkannya kalau dia ada di sampingku. Bergandengan tangan dan menemaniku ngobrol di sepanjang jalan. Tanpa dia, aku jadi sangat pendiam. Rasanya enggan untuk berbicara dengan oranglain.
Setelah puas menjelajahi Malioboro. Mengamati display-display toko dan suasana perdagangan di sana, kami sepakat berkumpul di Stasiun Tugu. Kami tidak ingin terlalu malam sampai di Kutoarjo, maka kami putuskan untuk membeli tiket kereta jam 2.30 siang.
Masalah muncul saat rombongan kami tercerai-berai. Beberapa orang belum datang di stasiun. Dan justru mereka itulah yang membawa tiket kami. Kami berusaha untuk tetap tenang. Toh, jam masih menunjukkan pukul  1 siang. Masih ada waktu sejam lebih untuk beristirahat di stasiun.
Ketenanganku terusik saat sms berantai darinya menyerbu ponselku. Belum selesai membalas  satu sms, dua sms lainnya sudah menyusul masuk. Tak puas dengan serbuan sms, dia beberapa kali miscall. Ketika kuangkat dia hanya menanyakan “Kamu di mana? Dengan siapa? Lagi ngapain? Kok lama gak dibalas?”. Sederet pertanyaan klise yang mirip lagu jadul.
Karena ulahnya itu, baterai ponselku ngedrop. Mana tidak punya power bank dan tidak ada colokan lagi. Di saat ponselku kritis, aku meminjam ponsel Kakakku untuk meletakkan SIM card-ku sementara waktu. Syukurlah, Kakakku tidak keberatan.
Menjelang jam 2 siang, temanku si pembawa tiket belum muncul. Suasana mulai memanas dinaungi cuaca mendung siang itu. Perasaanku juga memanas ketika Kakakku mulai protes dengan dering ponselnya. Serbuan sms darinya menghujani ponsel Kakakku. Wajah Kakakku yang semula memerah karena kegerahan menjelma merah karena kekesalan terhadap sms darinya. Bagaimana tidak, karena ia mengirim sms di waktu yang tidak tepat dan isi sms yang tidak sesuai pula.
Aku jadi salah tingkah saat membaca smsnya yang menanyakan tentang konfirmasi status facebook secara berulang-ulang. Pertanyaan tentang hal sepele yang dianggapnya teramat penting bagi status hubungan kami. Haduh, boro-boro online facebookan, untuk sms-an saja aku pinjam ponsel Kakakku. Ia mengulang pertanyaan yang sama seakan-akan tidak percaya jika ponselku beneran ngedrop.
Aku lumayan lega ketika temanku datang membawa tiket kami. Kami langsung menuju peron dan mencari colokan charger. Sayangnya, aku baru sadar kalo kabel charger-ku tertinggal di rumah. Jadinya hanya ponsel  Kakakku yang di-charge. Dan serbuan sms darinya masih terus berlanjut hingga membuat Kakakku ngomel-ngomel.
Hujan deras mengguyur Jogja. Petir berkilatan dan mengelegar seolah berada sangat dekat denganku. Kabar buruknya, kereta Prameks yang akan kami tumpangi terlambat datang. Hujan makin deras dan membuat lantai stasiun digenangi air. Akhirnya, kami berpindah tempat dan mencari lokasi yang kering sembari nge-charge.
Ponsel Kakak kembali berdering. Telepon dari dia. Kakakku langsung me-reject panggilannya. Kakakku memang berpantang menerima telepon bila sedang nge-charge ponsel. Berbahaya katanya.
Sms darinya kembali menyerbu. Masih permintaan yang sama “konfirmasi status facebook”. Kakakku menekuk wajahnya. Semua sms darinya dihapus tanpa dibaca terlebih dahulu. Dia berulangkali menelepon dan selalu di-reject oleh Kakak.
“Nih, baca! Cepetan balas dan suruh berhenti sms lagi!” ketus Kakakku sambil menyodorkan ponsel yag masih di-charge. “Ganggu banget. Cepetan, aku juga butuh ngabarin rumah kalo kita telat pulang.”
Dia masih menanyakan hal yang sama dengan kalimat sedikit berbeda. Kalimat yang makin menyudutkanku. Seolah aku jahat karena mengabaikan permintaannya. Dia menempatkan diri sebagai korban kecuekanku. Aku tak habis pikir, sebegitu pentingnya status facebook baginya. Rasanya ia tak peduli tentang keadaanku yang sedang capek dan kehujanan.
Hambar menjalari perasaanku. Seperti inikah yang disebut pacaran? Pentingkah mengabarkan kepada seisi dunia maya bahwa aku berpacaran dengannya melalui status “berpacaran” di facebook? Boro-boro menanyakan keadaanku saat itu. Setidaknya sedikit pengertian dengan mengatakan “Sabar, Dik” atau “hati-hati di perjalanan”, “semoga hujannya lekas reda” atau apalah untuk sedikit menenangkanku. Toh besok aku dan dia bisa bertatap muka langsung.
Akhirnya, aku melepas kabel charger untuk menerima telepon darinya. Aku menepuk jidatku ketika dia masih membahas status facebook di telepon. Astaga, apakah dia tidak mendengar gelegar petir dari sana? Dengan berat hati aku mengatakan jika hubungan kami cukup sampai di sini. Aku memintanya agar tidak mengangguku lagi. Dan telepon kuakhiri.
Sayangnya, dia keliru menangkap pembicaraanku. Ia hanya mengartikan kalau aku memintanya berhenti menelepon dan sms. Dia mengirim 2 sms terakhir yang isinya permintaan maaf dan pemakluman bila aku belum mengkonfirmasi permintaannya. Astaga, rasanya aku ingin mengunyah ponsel saat itu juga.
Bagiku, hubungan kami sudah berakhir sore itu. Tapi dia masih belum menyerah untuk membuatku mengunyah ponsel. Sesampai di rumah, aku langsung meminjam laptop Kakak untuk mengerjakan tugas sekolah yang harus dikumpulkan hari Senin. Sambil menjelajahi internet mengumpulkan materi, aku membuka facebook untuk menghapus pertemananku dengannya. Belum sempat menekan kata remove, serbuan chatting membanjiri inbox-ku. Permintaan maaf, rayuan, janji manis dan sejenisnya bermunculan di kotak chatting.
Aku menjadi tak enak hati. Rasanya aku jahat banget jika tidak memaafkannya kali ini. Okelah, aku beri dia kesempatan. Aku tak tega membuat anak orang bersedih karena patah hati. Maka, aku mengkonfirmasi status “berpacaran” dengannya saat itu. Dan ternyata, status itu hanya bertahan selama seminggu.
Dan sekarang  11 Januari 2015, statusnya telah berubah bersama orang lain. Fuihhh, syukurlah aku tidak perlu mengunyah ponsel. Oke, rasanya cukup membahas soal pacaran. Mari lanjutkan membahas mengenai kegiatan prakerin.
Sejauh ini, kegiatan prakerinku berjalan lancar. Berangkat jam setengah tujuh pagi dan pulang jam lima sore. Jam kerja sesuai dengan jam buka toko. Pekerjaanku juga mudah. Hanya menata display dagangan dan membuat nota penjualan. Bagian kasir dipegang oleh pemilik toko. Sedangkan bagian pembelian dan gudang ditangani karyawan tetap toko tersebut. Berhubung toko itu milik perorangan dan buka setiap hari, maka aku juga berangkat tiap hari tanpa libur di hari Minggu. Katanya sih bakalan dikasih bonus. Ya, semoga saja.

       Aku berharap bisa menjalani kegiatan prakerin dengan baik. Selain mendapatkan nilai, aku juga mencari pengalaman kerja di lapangan. Meskipun hanya sebagai pramuniaga toko. Semoga kelak aku bisa menerapkan ilmu dan pengalaman yang didapatkan selama prakerin ke kehidupan nyata. Berwirausaha dengan berjualan buku dan alat tulis sepertinya menyenangkan dan menjanjikan.

Kamis, 20 November 2014

Sekilas Tentang Kopi Muntu



Perusahaan kopi Muntu berawal dari usaha penggolahan kopi rumahan yang dirintis oleh Bapak Bejo Adi Sentoso yang beralamat di jalan Diponegoro 84 A Kutoarjo, kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pada tahun 1950, beliau membuka usaha produksi kopi bubuk di Kutoarjo. Beliau berkeinginan menciptakan produk kopi yang mempunyai ciri khas di masayarakat. Maka beliau mengunakan biji kopi lokal sebagai bahan baku produk kopinya. Biji kopi lokal tersebut berasal dari pasokan para petani di desa Kemiri, Bruno, dan Pituruh.
Beliau merintis usahanya dari nol dengan menggolah sendiri biji kopi secara tradisional. Beliau menyangrai biji kopi dalam wajan baja kala subuh belum menyapa. Selanjutnya biji kopi yang telah matang ditumbuk mengunakan lumpang dan alu. Dahulu, keluarga beliau termasuk keluarga sederhana yang belum mampu membeli mesin penggilingan. Bapak Bejo Adi Sentoso dikenal sebagai pribadi yang tekun dan teliti, sehingga beliau sangat mengutamakan kualitas produknya. Demi menghasilkan kopi bubuk bertekstur halus, maka beliau menghaluskan biji kopi yang telah ditumbuk dengan muntu dan cobek. Ditangan beliau, tumbukan biji kopi telah berubah menjadi serbuk halus siap seduh dengan aroma yang khas.
Naluri bisnis Bapak Bejo Adi Sentoso memang bagus. Produk kopi Muntu dapat diterima oleh masyarakat dan laris di pasaran berkat tekhnik pemasaran yang baik. Dalam segi pemasaran produk, beliau mengandalkan promosi dari mulut ke mulut(gethok tular). Kepuasan penikmat kopi pada kualitas produk menjadikan produk kopi Muntu laku dipasaran. Keunikan dari kopi Muntu ini juga terletak pada segi pengemasan. Kemasan produk berupa kertas yang membuat aroma kopi tercium sebelum membukanya.
Kemasan merupakan identitas  produk yang menjadikan nama produk dikenal di pasaran. Maka, tercetuslah nama “Kopi Muntu”. Secara harfiah, muntu adalah batu penumbuk yang juga melambangkan kerja keras demi menghasilkan produk yang berkualitas. Sampai saat ini nama kopi Muntu masih dilekatkan pada produk meskipun cara penggolahan kopi sudah mengunakan mesin penggiling. Hal ini dikarenakan, pewaris perusahaan ingin mengenang kerja keras sang pendiri perusahaan hingga usahanya telah berkembang pesat hingga saat ini.
Perjalanan perusahaan kopi Muntu tak selalu berjalan mulus. Pada masa reformasi, perusahaan Kopi Muntu juga sempat mengalami guncangan baik secara ekonomi maupun secara sosial. Selain kenaikan harga bahan baku, menurunnya omset penjualan, mereka juga dicemaskan oleh isu sosial menyangkut SARA yang sedang bergolak di masyarakat. Namun, berkat sikap keterbukaan dan itikad baik pemilik perusahaan, Kopi Muntu tetap dapat bertahan dalam guncangan era reformasi. Sebagai konsekuensinya, Kopi Muntu mengeluarkan produk “kopi mini” demi memenuhi daya beli masyarakat yang menurun.
Produk “kopi mini” diterapkan pada  tahun 1998 hingga tahun 2000. Yang dimaksud “kopi mini” adalah produk kemasan yang ber-netto setengah dari produk yang biasa dijual di pasaran. Normalnya, kopi Muntu di kemas dalam kemasan 50 gram seharga Rp.2000 sedangkan “kopi mini” adalah kemasan 25 gram seharga Rp.1200(harga pada tahun 1998-2000). Meskipun harga produk dinaikkan tetapi masyarakat tetap bisa membeli kopi Muntu sesuai dengan daya beli mereka. Sebuah strategi pemasaran yang cukup jitu mengatasi masalah perusahaan.
 
     Sampai saat ini, produk Kopi Muntu masih menjadi primadona di kawasan Kutoarjo dan sekitarnya. Meskipun masih mempertahankan kemasan yang berupa pembungkus kertas, tetapi Kopi Muntu telah memperluas area pemasaran produk melalui promosi dan iklan di radio. Perusahaan Kopi Muntu bertekad akan mempertahankan kualitas produk demi berkembangnya pemasaran produk di pasaran.

Survey Lokasi Prakerin Ke Jogja


      Minggu pagi, tanggal 16 November 2014 aku dan kakakku bergegas ke stasiun Kutoarjo. Kami harus mengejar kereta Prambanan Ekspress menuju Yogakarta yang akan berangkat jam setengah enam pagi. Syukurlah kami datang tepat waktu dan tidak ketinggalan kereta.

      Sayangnya, uang saku yang sedianya untuk membayar tiket kereta malah tertinggal di rumah. Kecerobohan yang hampir membawa petaka. Beruntung, kakakku bersedia mengambilkan jaket dan uang saku yang tertinggal di rumah. Syukurlah, kami sempat membeli tiket Prameks seharga Rp.6000,00 sekali jalan.

       Tak lama kemudian, kereta Prameks berangkat menuju Jogja. Aku ditemani kakak sulungku pergi bersama rombongan teman sekelas di kelas Pemasaran 1 Skanida. Rombongan kami terdiri dari 27 orang. Dikoordinatori oleh Mario selaku ketua kelas merangkap Ketua OSIS Skanida.

Sekitar jam delapan pagi, kami tiba di Jogja. Sepertinya kami datang kepagian. Mayoritas toko yang kami lintasi di jalanan Malioboro masih tutup. Berhubung tujuan kami ke Jogja untuk survey lokasi prakerin, maka sang koordinator memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu sembari menunggu pertokoan buka.

      Rombongan kami berjalan kaki dari stasiun Tugu menuju Titik Nol kilometer Jogja. Kami tidak sempat berfoto bersama karena kecapekan di jalan. Kami juga nyaris kelaparan karena belum sarapan dari rumah. Maka anggota rombongan protes kepada koordinator agar diperbolehkan beristirahat dan sarapan.

     Sang koordinator tidak langsung menanggapi. Mario malah terus berjalan hingga sampai di alun-alun Jogja. Kami berhenti di depan lapak mie ayam. Kami lega ketika diperbolehkan beristirahat dan menikmati sarapan. Sebagian sarapan mie ayam, sedangkan yang lainnya menyantap bekal yang dibawa masing-masing.

     Usai sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah Keraton Yogyakarta. Dan ternyata lokasi keraton berada tak jauh dari lokasi kami sarapan.

       Dengan membayar karcis seharga Rp.5000 per orang, kami masuk ke keraton Yogyakarta. Kami menikmati wisata sejarah yang dituturkan oleh sang pemandu wisata. Seorang lelaki setengah baya menjelaskan seluk beluk keraton dengan antusias. Suaranya nyaring dengan logat Jogja yang khas. Suara beliau bergema di aula Siti Hinggil ketika menerangkan bahwa tempat itu dijadikan tempat Raja berpidato tanpa mikrofon. Sesekali ia menggunakan bahasa Inggris untuk menerangkan kepada turis mancanegara alias bule. Bahasa Inggrisnya lancar dan bagus.


       Kami berkeliling lokasi keraton. Menyimak penuturan sang pemandu wisata. Sesekali berfoto ria. Jam sepuluh pagi, kami bergegas keluar lokasi Keraton. Melanjutkan tujuan kami semula untuk survey lokasi prakerin.

      Kami kembali berjalan kaki menuju jalan Malioboro. Mengamati para pramuniaga dan display dagangan di sepanjang pertokoan. Ternyata tugas seorang pramuniaga tak semudah yang kami bayangkan. Setelah keluar masuk beberapa toko, gerai, minimarket dan supermarket, kami mengadakan diskusi ringan. Maka sebagian anggota rombongan setuju untuk ditempatkan di Yogyakarta. Sedangkan sebagian lainnya termasuk aku tidak setuju. Aku lebih memilih lokasi prakerin di kawasan Purworejo saja. Lebih nyaman dan hemat ongkos.

     Usai makan siang, kami berkumpul di stasiun Tugu. Sebagian dari kami ada yang bersedia membelikan tiket pulang. Kami berencana pulang menggunakan Prameks jam setengah empat sore. Alam seakan sedang tidak bersahabat. Petir mengelegar menandai datangnya hujan deras.

      Hujan deras mengguyur tanpa jeda. Air cucuran hujan meluber dari saluran air di stasiun. Membuat air menggenangi lantai. Kami menjadi kesal ketika muncul pemberitahuan dari penggeras suara bahwa kereta Prameks menggalami keterlambatan. Kami terpaksa menunggu di peron ketika hujan deras berpetir mengguyur Jogja.

       Menjelang Maghrib, kami tiba di stasiun Kutoarjo. Kami lega dan saling melempar candaan sembari menunggu jemputan datang. Besok kami harus kembali bersekolah. Semoga besok tidak terlambat ke sekolah.

Selasa, 11 November 2014

Ringkasan Materi Tentang Pramuniaga



1.Pengertian Pramuniaga
Pramuniaga adalah karyawan peusahaan dagang yang bertugas melayani konsumen. Pramuniaga mengemban tugas memberikan pelayanan dan berhadapan langsung dengan konsumen agar konsumen merasa puas dan nyaman dengan produk dagang yang ditawarkan. Sehingga tercipta transaksi jual beli bahkan  pembelian berlangganan terhadap produk dagang. Dalam hal ini, pramuniaga bertindak sebagai katalis yang memperlancar proses penjualan produk terhadap pembeli.
Konsumen mengharapkan pelayanan yang baik dari penjual. Yaitu mendapatkan informasi yang cukup mengenai produk dagang yang dibutuhkan konsumen. Informasi berupa kuantitas, kualitas dan harga produk dagang merupakan hal utama yang dipertimbangkan konsumen sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk yang ditawarkan.
Dengan kata lain, seorang pramuniaga dituntut untuk menyampaikan informasi suatu produk dagang secara jelas dan menarik kepada konsumen.  Pramuniaga harus paham pada produk dagang yang ditawarkan sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam transaksi jual beli.
2. Cara Pramuniaga Melayani konsumen
v Menjumpai
Menunjukkan sikap peduli dengan cara menyapa konsumen dengan ramah
v Mempelajari
Mempelajari keinginan dan selera konsumen terhadap suatu produk
v Mengusulkan
Menawarkan suatu produk melalui pemberian informasi tentang kualitas, harga, dan spesifikasi produk
v Menegaskan
Menginformasikan spesifikasi produk secara persuasif agar konsumen tertarik pada produk yang ditawarkan
v Menjamin
Meyakinkan kepada konsumen bahwa produk yang telah dibeli memiliki kualitas yang sesuai dengan spesifikasinya. Jika perlu menawarkan garansi atau asuransi produk dengan kesepakatan tertentu.
3.Kegiatan Pramuniaga Sebelum Buka Toko
Ø Membersihkan area penjualan
Ø Merapikan, menyusun dan memajang barang
Ø Memeriksa kebersihan produk termasuk kelengkapan label harga
Ø Memeriksa stok barang
Ø Mengikuti pengarahan dan mempersiapkan promosi
Ø Mengenakan semua perlengkapan kerja
4.Kegiatan Selama Operasional Toko
¯ Menyambut pelanggan dengan senyum dan sapaan ramah
¯ Menjaga dan merapikan barang dagangan
¯ Mengisi kembali persediaan produk
¯ Menawarkan produk dan mengucapkan terimakasih pada pelangan
¯ Menjaga kebersihan dan keamanan barang dagangan
5.Kegiatan Pramuniaga Menjelang Tutup Toko
ü Memastikan area berjualan terjaga kebersihannya
ü Menata dan menutup barang dagangan
ü Memastikan keamanan area berjualan
ü Mengikuti arahan dari atasan
6. Larangan Bagi Pramuniaga
ý Menghardik, menghina dan menghakimi pelanggan
ý Berdebat dengan pelanggan
ý Acuh tak acuh pada pelanggan
ý Bergerombol dan ngobrol dengan karyawan lain selama jam kerja
ý Membiarkan pelanggan menunggu lama
ý -meletakkan tangan di saku atau di belakang punggung saat melayani
ý Menjanjikan suatu hal di luar prosedur kepada pelanggan
ý Meninggalkan area penjualan tanpa ijin
ý Makan-minum, menerima penggilan ponsel saat bertugas
ý Melakukan transaksi di luar kassa
Bersandar, jongkok, bertopang dagu dan menguap di area penjualan saat melayani pelanggan

Selasa, 04 November 2014

Colenak : Belajar Berwirausaha di Sekolah

     Awalnya, aku mengeluh pada penerapan kurikulum 2013 yang njlimet. Bikin ribet karena banyak tugas dan sering pulang sore. Salahsatu tugasnya adalah membuat snack alias jajanan yang dititipkan di kantin sekolah. Sebagai anak pemasaran, kami memang diserahi tugas mengurus kantin secara bergiliran. Yah, kami rangkap profesi sebagai siswa sekaligus pramuniaga di sekolah.

      Tugas praktek pemasaran tersebut mengharuskan kami membentuk kelompok yang terdiri dari 4 orang. Kami sepakat untuk membuat panganan tradisional bernama colenak. Terbuat dari tape singkong dan enten-enten(parutan kelapa+gula). Maka kami mengumpulkan iuran sebesar Rp.8500 per orang sebagai modal awal.

       Kami membuat colenak secara bergiliran. Sebagai permulaan kami membuat 20 biji dan laku dijual pada teman sekelas. Hari berikutnya kami menjual 25 biji dan laku terjual di kantin sekolah. Sayangnya, jualan kami tidak selalu laku dan membuat kami merugi. Akhirnya, kami putuskan untuk berhenti berjualan colenak dan mencari ide cemilan lainnya.

          Meskipun tampak ribet dan melelahkan, tapi aku mulai menikmati penerapan kurikulum 2013. Menurutku tugas seabreg itu mengajarkan kemandirian kepada kami. Setidaknya kami memiliki persiapan jelang prakerin semester depan. Sehabis colenak, mau bikin apa lagi ya buat dijual di kantin?

Iklan Diskon Zalora